√ 10 Pengertian Sejarah dan Sumber Sejarah - Qna Sains

√ 10 Pengertian Sejarah dan Sumber Sejarah

pengertian sejarah

Pengertian Sejarah

Pengertian Sejarah berasal dari bahasa Arab (ةرجش: šajaratun) yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab, kata sejarah disebut tarikh (خيرات ). Adapun kata tarikh dalam bahasa Indonesia artinya waktu. Kata Sejarah lebih dekat pada bahasa Yunani yaitu historia yang berarti ilmu. Dalam bahasa Inggris berasal dari history, yakni masa lalu. Dalam bahasa Prancis historie, bahasa Italia storia, bahasa Jerman geschichte, yang berarti yang terjadi, dan bahasa Belanda dikenal gescheiedenis. 

Menurut kamus umum Bahasa Indonesia, sejarah dapat diartikan sebagai silsilah, asal-usul (keturunan), atau kejadian yang terjadi pada masa lampau. Sedangkan para ahli mengemukakan definisi sejarah antara lain sebagai berikut.

  1. Sejarah menurut Widja adalah suatu studi yang telah dialami manusia diwaktu lampau dan telah meninggalkan jejak diwaktu sekarang, di mana tekanan perhatian diletakkan, terutama dalam pada aspek peristiwa sendiri. Dalam hal ini terutama pada hal yang bersifat khusus dan segi-segi urutan perkembangannya yang disusun dalam cerita sejarah (I Gede Widja, 1989: 9).
  2. Sejarah Sartono Kartodirdjo adalah gambaran tentang masa lalu manusia dan sekitarnya sebagai makhluk sosial yang disusun secara ilmiah dan lengkap. Meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan yang memberikan pengertian pemahaman tentang apa yang telah berlalu (Sartono Kartodirdjo, 1982: 12).
  3. Sejarah menurut Sidi Gazalba adalah gambaran masa lalu tentang manusia dan sekitarnya sebagai makhluk sosial yang disusun secara ilmiah dan lengkap, meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan, yang memberi pengertian tentang apa yang telah berlalu (Gazalba, 1981: 13).

Dari beberapa pengertian sejarah di atas maka dapat disimpulkan bahwa sejarah adalah ilmu yang mempelajari kejadian-kejadian atau peristiwa pada masa lalu manusia serta merekontruksi apa yang terjadi pada masa lalu. Dengan adanya pembelajaran sejarah pada siswa maka dapat membantu siswa dalam memahami perilaku manusia pada masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang.

10 Pengertian sejarah menurut para ahli

10 pengertian sejarah menurut para ahli

Image: qnasains.com (10 Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli)

  1. V. Bryce berpendapat bahwa Sejarah adalah catatan yang telah dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat manusia. Sedangkan W.H. Walsh berpendapat bahwa Sejarah menitikberatkan pada pencatatan yang berarti dan penting, yang meliputi tindakan dan pengalaman di masa lalu. Adapun Patrick Gardiner berpendapat bahwa Sejarah adalah ilmu yang telah diperbuat manusia.
  2. Roeslan Abdulgani berpendapat bahwa sejarah adalah penelitian dan penyelidikan secara sistematis untuk dijadikan perbendaharaan, pedoman bagi penilaian dan penentuan keadaan sekarang serta arah proses masa depan. Sedangkan Ibnu Khaldun berpendapat bahwa Sejarah didefinisikan sebagai catatan peradaban manusia.
  3. Herodotus berpendapat bahwa Sejarah ialah satu kajian perputaran jatuh bangunnya masyarakat dan peradaban. Sedangkan Aristotles : Sejarah merupakan satu sistem yang meneliti kejadian awal dan tersusun dalam bentuk kronologi, peristiwa masa lalu yang mempunyai catatan, rekod-rekod atau bukti-bukti yang konkrit. Selanjutnya R. G. Collingwood berpendapat bahwa Sejarah ialah bentuk penyelidikan tentang hal-hal dilakukan manusia pada masa lalu.
  4. Muthahhari berpendapat bahwa : ada tiga cara mendefinisikan sejarah, yaitu: Sejarah tradisional (tarikh naqli) adalah pengetahuan tentang kejadian, peristiwa dan keadaan di masa lalu yang berkaitan dengan masa kini. Sejarah ilmiah (tarikh ilmy), yaitu pengetahuan tentang hukum yang menguasai kehidupan masa lalu melalui pendekatan dan analisis atas peristiwa masa lalu. Filsafat sejarah (tarikh falsafi), yaitu pengetahuan tentang perubahan bertahap.
  5. M Yamin berpendapat bahwa Sejarah adalah ilmu yang berhubungan dengan cerita sebagai hasil penafsiran kejadian masa lalu. Gustafson berpendapat bahwa Sejarah merupakan puncak gunung pengetahuan manusia. Sedangkan Benedetto Croce berpendapat bahwa sejarah merupakan rekaman kreasi baik teoritikal maupun praktikal. Baverley Southgate berpendapat bahwa sejarah didefinisikan sebagai “studi tentang peristiwa di masa lalu”. 
  6. Muthahhari mendefinisikan sejarah, yaitu sejarah ilmiah yaitu pengetahuan tentang hukum yang menguasai kehidupan masa lalu melalui pendekatan dan analisis. Sedangkan W.J.S Poerwodarminta : Sejarah mengandung 3 pengertian, yaitu :  Kesusasteraan lama, sislsilah, dan asal usul. 
  7. Abramowitz “history as a chronology of events” yang berarti bahwa sejarah merupakan kronologi kejadian.  Sedangkan Sunnal dan Haas berpendapat bahwa “history is a chronological study that interprets and gives meaning to events and applies systematic methods to discover the truth”.  Costa  berpendapat bahwa sejarah didefinisikan sebagai “record of the whole human experience”. 
  8. Cleveland berpendapat bahwa “history is viewed as a mean by which to understand human life”.  Bernheim berpendapat bahwa sejarah adalah sebuah ilmu yang menelusuri serta menempatkan peristiwa dalam waktu dan ruang mengenai perkembangan manusia.
  9. Henri Pirenne I mengartikan sejarah sebagai cerita tentang peristiwa dan tindakan manusia. Sartono Kartodirdjo mendefinisikan sebagai bentuk penggambaran pengalaman kolektif dan pengungkapan verbal. 
  10. Daniel berpendapat bahwa sejarah adalah kenangan pengalaman. Sedangkan Banks berpendirian bahwa semua kejadian di masa lalu dan aktualitas. Carr berpendapat bahwa : “history is a continuous process of interaction between the historian and his facts, and undending dialogue between the present and the past”.

Alasan Mengapa Pentingnya Belajar Sejarah

Dari pengertian sejarah dapat diketahui bahwa di dalam sejarah terkandung beberapa aspek yang perlu dipelajari, yaitu aspek pengetahuan, aspek sikap, dan aspek ketrampilan. Aspek-aspek ini akan bermanfaat bagi peserta didik dalam upaya memecahkan permasalahan yang dihadapi di dalam masyarakat pada masa yang akan datang. Sering dikatakan bahwa pelajaran sejarah penting artinya bagi kehidupan manusia, yaitu sebagai tambahan pengalaman, upaya untuk menjaga peninggalan masa lampau, mengetahui pertentangan antar suku bangsa yang mungkin mempunyai permasalahan yang sama serta untuk mengenang dan mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan kita.

Oleh karena belajar sejarah mempunyai tujuan yang baik bagi generasi muda maka sejarah perlu dan harus dipelajari oleh siapapun terutama oleh generasi muda yang ada di negara ini. Memahami sejarah di masa yang silam, peserta didik dapat menangkap nilai-nilai yang dianut oleh tokoh terdahulu. Menurut Kartodirjo tujuan pengajaran sejarah adalah:

  1. Membangkitkan perhatian serta minat kepada sejarah tanah air.
  2. Mendapatkan inspirasi, baik dari kisah kepahlawanan maupun peristiwa yang merupakan strategi nasional.
  3. Memberikan pola berpikir rasional, kritis, empiris, dan realistis.
  4. Mengembangkan sikap mau menghargai nilai-nilai kemanusiaan.

Alasan Mengapa Pentingnya Belajar Sejarah adalah untuk menanamkan semangat kebangsaan, cinta tanah air, bangsa dan negara serta sadar untuk menjawab untuk apa ia dilahirkan. Pelajaran sejarah merupakan salah satu unsur utama dalam pendidikan politik bangsa. Lebih jauh lagi pengajaran sejarah merupakan sumber inspirasi terhadap hubungan antar bangsa dan negara. Siswa menjadi memahami bahwa ia merupakan bagian dari masyarakat negara dan dunia.

Teori-teori Sejarah

Teori adalah sangat esensial dalam kajian tentang fenomena baik pada masa lalu maupun sekarang. Namun untuk ilmu sejarah, kedudukan teori menjadi cukup menimbulkan perdebatan sengit terutama antara aliran  empirisme dan aliran idealisme  mengenai penerapan hukum umum (general law) dan teori generalisasi (generalizing theory) dalam kajian sejarah.

Menurut golongan Idealis (terutama Neo-Kantian seperti Wilhelm Dilthey, Henrich Rickert, Windelband, Max Weber,  sera Neo-Hegelian seperti Benedetto Croce, RG. Colingwood), bahwa ilmu-ilmu  alam (natural sciences) dan kajian-kajian manusia (human studies) termasuk humaniora, merupakan jenis jenis olahan intelektual yang sama sekali berbeda  dengan ilmu-ilmu lainnya. Dikatakan berbeda karena jika ilmu-ilmu alam itu  bertujuan untuk menemukan hukum-hukum umum (generals laws) maka ia bersifat nomotetik, sedangkan sejarah bertujuan untuk menegakkan dan  mendiskripsikan individu dan fakta-fakta unik serta peristiwa-peristiwa, karena itu disebut ideografik. Kemudian ilmu-ilmu alam itu besifat ”obyektif”, yang bisa dilakukan berbagai metode observasi langsung maupun ekperimen-eksperimen,  sedangkan kajian-kajian kemanusiaan itu ”subyektif” yang hanya dilakukan atas metode interpretasi dan pemahaman atau ”mengalami ulang”, re-experiencing” dan ” Verstehen” menurut istilah Dilthey dan Weber, kemudian ”berpikir-ulang” atau rethinking menurut Colingwood.

Menurut kelompok yang anti teori ini, sejarah teoretis adalah sejarah yang spekulatif dan itu harus diserahkan kepada para ahli filsafat dan nabi-nabi. Selain itu juga menurut kelompok anti teori tersebut bahwa kebudayaan manusia itu begitu kaya dan beragam sehingga memiliki keunikan masing-masing dari setiap tempat dan zamannya. Oleh karena itu model-model  sejarah dan tingkah laku manusia yang dijelaskan secara umum adalah penipuan belaka.

Adapun tugas sejarawan adalah merekonstruksi peristiwa-peristiwa serta situasi-situasi menurut kenunikan individual dan interpretasi-interpretasi mereka hanya berlaku untuk serangkaian kondisi-kondisi tertentu saja.Tidak ada manfaatnya membuat komparasi situasi-situasi sjarah yang dipisahkan oleh waktu  dan tempat. Lebih keras lagi sikap anti teori ini juga dikemukakan oleh David Thomson maupun G.R. Elton. Bagi Thomson bahwa ”Sikap sejarah menurut definisinya adalah bermusuhan dengan pembuatan siatem (syatem-making)” Thomson berpandangan seperti ini karena ia adalah pengikut yang tidak menyukai filsafat sejarah spekulatif yang tidak  menghargai keunikan gerak sejarah.

Pendapat serupa juga dikemukakan oleh  Elton bahwa menempatkan sejarah dalam upayanya membuat teori-teori adalah sama halnya dengan menempatkan sejarah dalam hubungan yang tergantung pada  ilmu-ilmu sosial. Atau para sejarawan teretisi adalah perongrong/pengganggu  otonomi disiplin sejarah. Sebab menurutnya, dalam bentuknya yang tidak lemah, sejarah memberikan obat penawar yang paling ampuh terhadap pembentuk- pembentuk sistem (system builders) di antara ahli-ahli ilmu sosial yang menawarkan penyelesaian-penyelesaian yang segera serta tidak ragu-ragu dalam permasalahan kehidpan manusia yang sangat kompleks.

Sebaliknya golongan empiris berpendapat bahwa walaupun terdapat perbedaan dalam metode, sebenarnya harus mampu menunjukkan pengetahuan yang benar dan sejarah-pun harus mengikuti aturan yang sama. Mereka mengemukakan bahwa besarnya tuduhantuduhan yang merendahkan pendukung teoretisi itu hanyalah atas dasar prasangka belaka.

Bahkan  kecenderungan-kecenderungan-kecenderungan negatif yang dimilki oleh kaum ”tradisionalis” jika dibiarkan dan tidak terkendali hanya akan menimbulkan akibat yang lebih buruk serta terjadinya ”pemiskinan” pemahaman sejarah bukan  mengarah kepada suatu pengayaan. Dan, mereka juga  berpendapat bahwa dalam penulisan sejarah itu tidak sepenuhnya dan semuanya menekankan ”keunikan” semata-mata, di mana para sejarawan-pun membuat  keumuman-keumuman seperti membuat kategori-kategori, konsep-konsep, serta  generalisasi-generalisasi dari peristiwa sejarah.

Sumber Sejarah 

sumber sejarah

Image: qnasains.com (Sumber Sejarah)

Sumber sejarah merupakan bahan utama yang dipakai untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan subjek sejarah. Untuk memperolehnya  seseorang dapat memanfaatkan museum, perpustakaan, arsip nasional, arsip daerah sebagai  tempat untuk mendapatkan informasi yang terkait dengan subjek sejarah yang akan ditulis.

Sejarah sebagai peristiwa yang terjadi pada masa lampau, dapat diungkap kembali oleh para ahli sejarah berdasarkan sumber-sumber sejarah yang dapat ditemukan. Meskipun demikian, tidak semua peristiwa masa lampau dapat diungkap secara lengkap karena terbatasnya sumber  sejarah. Dalam penulisan sejarah, peran atau keberadaan sumber sejarah menjadi sesuatu yang tidak bisa diabaikan.

Para ilmuwan berpendapat mengenai sumber sejarah antara lain: 

  1. R. Moh. Ali, sumber sejarah adalah segala sesuatu yang berwujud dan tidak berwujud serta berguna bagi penelitian sejarah Indonesia sejak zaman purba hingga sekarang.
  2. Zidi Gazalba, sumber sejarah adalah warisan yang berbentuk lisan, tertulis dan visual
  3. Muh. Yamin, sumber sejarah adalah kumpulan benda kebudayaan untuk membuktikan sejarah.

Adapun jenis-jenis sumber sejarah dapat dibedakan menjadi empat antara lain: 

  1. Sumber tertulis (dokumen)

Keterangan dalam bentuk laporan tertulis yang memuat fakta-fakta sejarah secara jelas. Biasanya terdapat dalm buku harian, arsip notule, resolusi, naskah perjanjian dll. contohnya pada peristiwa  arsip nasional kerajaan belan menyimpan dokumen selama dengan konfilk belanda. 

  1. Sumber lisan (Oral)

Merupakan sumber tradisional, cerita sejarah yang hidup ditengah masyarakat, diceritakan dari mulut ke mulut dan dapat dilakukan dengan wawancara. 

  1. Benda peninggalan (artefak)

Segala keterangan yang dapat diperoleh dari benda-benda tertentu atau benda peninggalan yang sering disebut benda purbakala/kuno. Contohnya, Letkol. Soeharto pada tahun 1940.  Membangun gerobak keris, baju abdi dalem dll, hal ini membuktikan kekuasaan Soeharto saat  itu.

  1. Sumber kuantitatif (perhitungan)

Biasanya digunakan untuk meneliti perokonomian saat itu. Contohnya, pada masa yogya sedang  menghadapi penduduk belanda, harga beras, ketela dll. Hal ini membuktikan secara kuantitatif dapat diperhitungkan beberapa persedian beras untuk kota dll.         

Ditinjau dari wujudnya, secara umum sumber sejarah dibedakan menjadi dua, yaitu, sumber primer dan sumber sekunder.

1. Sumber primer

Yaitu sumber yang berkaitan langsung dengan peristiwa yang diceritakan. Atau saksi dengan  mata kepala sendiri bisa juga saksi panca indra yang lain, dan alat-alat yang canggih (tape, recorder,photo,kamer dll), terlibat langsung. Sumber primer ini dapat berupa kesaksian langsung  dari pelaku sejarah (sumber lisan), dokumen-dokumen, naskah perjanjian, arsip (sumber tertulis),  dan benda atau bangunan sejarah atau benda-benda arkeologi (sumber benda).            

2. Sumber sekunder 

Yaitu kesaksian dari siapa pun yang bukan merupakan saksi pandangan mata, yakni orang yang tidak hadir pada peristiwa yang dikisahkan. Disamping berupa kesaksian dari orang yang tidak terlibat langsung dalam peristiwa sejarah, yang termasuk dalam sumber sekunder lainnya adalah  buku-buku tangan kedua dari penulis sejarah lain. 

Adapun Bukti Sejarah, antara lain:

  1. Bukti tertulis

Bukti tertulis mirip dengan sumber tertulis pada sumber sejarah yang memuat fakta-fakta sejarah  secara jelas, berwujud benda yang kongkret.seperti benda-benda yang ada atau peninggalan.

  1. Bukti tidak tertulis

Bukti tidak tertulis mengandung unsur-unsur sejarah. bukti tidak tertulis dapat berupa cerita atau tradisi. 

Tempat- tempat untuk mencari sumber-sumber sejarah, antara lain:  

  • Museum: tempat untuk menyimpan benda-bendakuno untuk bahan-bahan yang tidak terdapat dalam buku bahan bersifat arkeologis, epigrafis, dan numistis.
  • Perpustakaan: tempat untuk menyimpan dan bacaan buku-buku usaha mendapatkan keterangan mengenai subyek sejarah juga keterangan emnjadi pengarah. • Arsip Negara: tempat menyimpan dokumen-dokumen resmi
  • Arsip: tempat menyimpan informasi subyek sejarah misalnya dokumen pribadi antiquary, kantor-kantor pemerintah, perusahaan dan sbg.

Kritik Sumber (verifikasi, otentitas, validitas) Dokumen disebut terpecaya jika setelah dilakukan uji ulang hasilnya sama. Otentitas sumber bukan hanya berlaku bagi dokumen tetappai juga berlaku bagi sumber-sumber lainnya. Keaslian ini biasanya diburu oleh peneliti sajarah atas otentitas dan valid tidaknya faktor dalam dan luar.  Sumber-sumber sejarah dapat dibantu dengan ilmu lain seperti, ilmu purbakala (arkeologi),  ilmu tulisan kuno (paleografi), ilmu hitung waktu (kronologi), ilmu mata uang (numismatik), ilmu keturunan(genelogi) dll. Ilmu social yang perlu dipelajari seperti, geografi, antropologi,  ekonomi.

Kesimpulan

Dari penjelasan diatas mengenai sejarah dapat kita tarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pengertian Sejarah berasal dari bahasa Arab (ةرجش: šajaratun) yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab, kata sejarah disebut tarikh (خيرات ). Adapun kata tarikh dalam bahasa Indonesia artinya waktu. Kata Sejarah lebih dekat pada bahasa Yunani yaitu historia yang berarti ilmu.
  2. Alasan Mengapa Pentingnya Belajar Sejarah adalah untuk menanamkan semangat kebangsaan, cinta tanah air, bangsa dan negara serta sadar untuk menjawab untuk apa ia dilahirkan. Pelajaran sejarah merupakan salah satu unsur utama dalam pendidikan politik bangsa.
  3. Sumber sejarah merupakan bahan utama yang dipakai untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan subjek sejarah. Untuk memperolehnya  seseorang dapat memanfaatkan museum, perpustakaan, arsip nasional, arsip daerah sebagai  tempat untuk mendapatkan informasi yang terkait dengan subjek sejarah yang akan ditulis.
Views:
3949
Article Categories:
Perguruan TinggiSejarah

All Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *